
09/10/11
Lembah dan Awan

18/07/11
Kisah Ketika Senja Tertidur
Dalam kelamnya mereka melebur bersama kerlip malam yang terurai.
Hempasan suaramu dalam nyanyian untaian kata adalah hayatan dalam benakku.
Di kala jingga telah menunduk, aku hanya terayun dalam buai senyummu
Mata memberang
Merah membara
Siapa sangka cinta dan benci sebenarnya saling bergandengan
Berpelukan dalam buai pertengkaran dan senggama kita
Wajah memerah
Pekik meninggi
Di antara tangis haru dan pilumu, hanya ada kalbu yang menderu!
Gerak-gerak yang kerap kali menyiksa..itulah Cinta!
Aku terduduk, menekuk tiap lekuk tulang-tulang punggungku
...
Kisah itu kisah yang kelam.. aku tahu.
Maka ku catat kala itu dalam hirupku:
"aku mencintai detik yang terletak di antara pilu dan pesona yang kau beri"
09/07/11
Tertelan Kekosongan
Meraba cinta adalah meraba kekosongan di dalam gelap
Riuh rendah detak jantungmu yang berbunyi
Hanya memberi pilu sekaligus takut pada telinga
Yang tertelan ketidakjelasan
Di sini aku berdiri
Meraba keberadaanmu dan membandingkannya
Dengan panjangnya urai detik yang telah kususun,
kuikat menjadi bukti yang sesungguhnya tidaklah berarti
...Bagimu, bagiku, atau bagi siapapun
Urai detik itu hanyalah bukti seberapa lama kakiku terseret
Di dalam gelap yang tak terjelaskan
Meraba cinta adalah meraba kekosongan di dalam gelap
Kesibukanmu mengejar detak jantungmu yang kencang
hanya memberi lelah dan desah
Dan keringatmu adalah kesia-siaan
Di sini aku berdiri
Meraba kehangatanmu
Di dalam gelap ini,
di dalam kesadaran betapa aku terseret begitu jauh,
Tidak pernah sekalipun aku menginginkan untuk keluar dari semua kekosongan itu
13/06/11
pembicaraan 'hot'
-----------------------------------------
suatu sore di sebuah cafe...
Feby: Apa perbedaan "ilmu pengetahuan" (knowledge) dan "kesadaran" (consciousness)?
Amri:
knowledge dimiliki oleh semua orang, bahkan orang gila sekali pun. Sementara consciousness lebih mengarah ke individu persona

Satu sisi knowledge mempengaruhi kedua subjek tersebut. Di sisi lain kedua subjek tadi memiliki knowledge-nya sendiri. Knowledge bisa datang sendiri ataupun didatangkan.
Contoh:
Ada dua orang: yang 'sadar' dan yang 'tidak sadar' , duduk di satu bangku yang sama. Keduanya diberi rokok. Orang yang 'sadar' itu pasti punya pilihan pada rokok tersebut. Ia punya dua konvensi: membakaranya dan tidak membakarnya. Sementara orang yang 'tidak sadar' tidak memiliki refrensi yang sama ataupun tidak pernah punya refrensi apakah rokok tersebut akan dibakar ataupun tidak. Bisa saja nama benda silinder putih bak jari kelingking itu memiliki nama lain atau bukan "rokok".
Dari contoh tersebut dapat dilihat dua hal yang mempengaruhi bentuk knowledge yang dimiliki kedua subjek tadi:
1) perbedaan konvensi
2) state of affair
perbedaan sudut pandang pada image yang ada
semua hal itu knowledge, tetapi beda subjek berarti beda pula image knowledge-nya
Di sini kita melihat consciousness sebagai kata benda, sementara knowledge lebih menyerupai kata sifat karena ada konteks di situ.
Feby: Kalau knowledge ada dimana-mana, berarti knowledge hanya bisa menjadi power kalau dalam keadaan conscious?
Amri: Bisa saja knowledge menjadi power di saat tidak ada consciousness
Feby: Bagi saya, kondisi conscious lebih memiliki kuasa (power) ketimbang kondisi unconscious
Amri: Berarti kamu masih meng-objek-kan subjek yang unconscious tadi
Feby: Hmm.. Kalau begitu, sepertinya kita perlu menelusuri dulu apa itu power
Amri: Apakah power hanya sekedar definisi dari pelaku 1 mempengaruhi pelaku 2?
Feby: Tidak. Saya meyakini makna power lebih luas dari itu
Contoh:
Seorang agen properti mempromosikan rumah kepada pembelinya dan memiliki kuasa akan hal itu. Akan tetapi, apakah agen properti tidak memiliki kuasa terhada dirinya sendiri? Di saat agen properti itu hanya 'manusia biasa', secara tidak sadar ia akan tetap melakukan hal-hal yang dilakukan oleh semua manusia, seperti makan, bernapas, dsb. Di posisi ini sang agen properti adalah subjek yang unconscious, tetapi masih punya kuasa akan dirinya sendiri karena tetap melakukan hal-hal seperti makan dan bernapas tadi.
Dari hal tersebut dapat dilihat power terbentuk menjadi dua: power atas orang lain dan power atas dirinya sendiri. Di keduanya power dapat dibentuk, maupun terbentuk.
Agen properti tadi mempunyai knowledge di bidangnya (state of affair), sehingga ia dapat membentuk kuasa saat mempromosikan rumah yang dijualnya. Namun, agen properti tetap berkuasa melakukan kegiatan makan dan bernapas karena hal tersebut sudah terbentuk secara alami.
JADI...- knowledge dimiliki oleh siapapun, baik yang 'sadar' ataupun 'tidak sadar'
- kesadaran (consciousness) dapat dikatakan sebuah konvensi dari satu pihak saja karena adanya perbedaan state of affair tadi (??)
- knowledge bagi yang 'sadar' ataupun yang 'tidak sadar' memiliki kuasa yang dapat dibentuk ataupun terbentuk.
contoh lain (intermezo):
Perbedaan knowledge memberi perbedaan konsepsi. Mereka yang tahu hubungan Morgan dan Garcia pasti tidak akan menoleh aneh seperti ibu-ibu di bawah ini.

yah, saya tahu saya terlalu obsesi dengan TV Show satu ini...baiklah....abaikan.
07/06/11
bawa yang berat ke yang ga berat
Selain itu, sampul buku tersebut memberi kesan yang begitu casual dengan garis warna merah mudanya. Ya, merah muda! Saya sendiri terenyuh melihat warna merah muda yang begitu lembut itu menemani gambar cangkir, sendok, dan puntung rokok tadi. Sampul depan buku tersebut jelas-jelas membawa nuansa yang berbeda dengan buku-buku filsafat lainnya yang pernah saya baca. Biasanya sampul buku-buku filsafat itu menunjukan wajah sang filsuf dengan warna yang netral namun agak gelap, seperti coklat, kombinasi putih-biru, atau abu-abu. Sampul "Existentialism - A Brief Insight" tadi seolah-olah memberi pesan: "Big picture of philosopher on the cover of a philosophy book is so lame. No one wants to read it or even touch it. Give them pink and you'll see how hip it is"
Ya...efeknya... saya jadi sangat tertarik untuk ngubek-ngubek isinya...
(Ternyata ga jauh beda sama buku-buku pengantar eksistensialisme lainnya.. :|)
Anyway, berhubung lagi ngomongin eksistensialisme yang tentunya tidak lepas dari seorang Sartre, saya jadi ingat tulisan saya yang berjudul "Negativitas Sartre dan Arsitektur Jembatan Teksas". Tulisan ini dibuat untuk acara diskusi yang diadakan oleh Astina (@AstinaAcademia) , tetapi dengan kesadaran penuh sepenuh-penuhnya, bahwa tulisan ini harus bermanfaat bagi mahasiswa arsitektur. Dengan kesadaran itu, saya memang sempat merasa kesulitan harus membawa pembahasan filsafat ke arsitektur. Saya bahkan memasukan beberapa gambar yang mengomunikasikan hasil pengamatan saya (seperti scoring, pengaruh angin, suara, dsb), mirip seperti yang saya dan teman-teman mahasiswa arsitektur UI lakukan untuk tugas perancangan. Saya rasa yang saya lakukan ini memiliki tujuan yang tidak jauh berbeda dengan si pembuat sampul depan "Existentialism - A Brief Insight" tadi: memberi pencitraan yang ringan pada pembahasan yang berat.
Well, the good thing is more people would be attracted. The bad thing is...it's not as easy as changing dark colour into pink.
---
silakan diunduh hasil tulisan saya:
http://www.4shared.com/document/n7juNNSW/Negativitas_Sartre_dan_Arsitek.html
selamat menikmati :D
02/06/11
Gumam
beberapa bait puisi yang saya ciptakan untuk seorang sahabat, may rahmadi (@memacutjembul)...
awalnya tak berjudul, lalu "Gumam" saya taruh di atas karena sepertinya ini tidak lebih dari sekedar gumam dan imajinasi yang sekilas muncul, lalu pergi tanpa pamit.
---
seandainya tidak ada seandainya
seharusnya tidak ada seharusnya
sepertinya tidak ada sepertinya
jika saja berpura-pura sudah cukup
jika saja ketulusan sudah cukup
jika saja tidak ada keduanya sudah cukup
jika saja selalu ada kata cukup
seandainya tidak ada seandainya
karena saya melihat maka saya muntah
karena saya mendengar maka saya muntah
karena saya merasa maka saya muntah
karena saya muak akan semuanya maka saya muntah
seharusnya tidak ada seharusnya
jika ditelaah lagi saya adalah ini
jika ditelaah lagi dia adalah ini
jika ditelaah lagi mereka adalah ini
jika ditelaah lagi kita semua adalah itu
sepertinya tidak ada sepertinya
14/02/11
ah, alasan!
Jika ditanya alasan saya mengambil mata kuliah Perencanaan Kota dan Wilayah, saya akan memberitahukan ekspektasi saya saat pertama kali melihat iklannya di facebook: mata kuliah ini mungkin menjadi perantara dua mata kuliah yang saya ambil sebelumnya, yaitu City Power dan Perancangan Arsitektur 3. Kedua mata kuliah tersebut bertanggung jawab atas rasa penasaran saya mengenai kompleksnya permasalahan di kota. Meskipun City Power cenderung terasa jauh dari wilayah arsitektur, tetapi saya merasa ada sesuatu yang mengaitkannya dengan mata kuliah Perancangan Arsitektur 3. Mungkin, mata kuliah inilah pengait tersebut, yang kemudian dapat menjelaskan bagaimana arsitektur mempengaruhi kota dan elemen-elemen di dalamnya, termasuk power itu sendiri.
Terlepas dari spekulasi tersebut, saya juga bertanya-tanya mengenai posisi saya sebagai mahasiswi yang belajar perancangan (design) pada perencanaan kota dan wilayah. Apakah mata kuliah ini perlu saya ambil? Bagaimana sebenarnya keterkaitan perancangan dengan perencanaan kota dan wilayah?
Konsepsi “merancang” atau “desain” tentu berbeda dengan “merencanakan”. Dalam perkembangan maknanya pun “desain”, kata baku dari “design” dalam bahasa Indonesia, sebenarnya juga terkait dengan kata “rencana”. Pada tulisannya yang berjudul “Desain dan Merancangl; Penjelajahan Suatu Gagasan”, Gunawan Tjahjono menjabarkan:
“Sebagai kata kerja, ‘design’, berasal dari kata Prancis ‘desseing’ yang berarti tujuan/rencana. Dalam perkembangan selanjutnya timbul perbedaan ejaan, antara yang bermakna seni (‘dessin’) dan yang tidak (‘dessein’); sedangkan perkembangannya dalam bahasa Inggris justru dipakai sebagai kata kerja, baik sebagai tujuan maupun rencana. Sejak itu telah berkembang pelbagai konsepsi di sekitar kata ‘design’ dalam pengertian “rencana”…”[1]
Dari uraian di atas bisa terlihat bahwa makna “design”, secara etimologis, memiliki batasan yang begitu tipis dengan “rencana”. Jika begitu tipisnya batasan makna antara “planning” dengan “design”, lalu mengapa ada perbedaan penggunaan dari kedua kata tersebut, seperti pembedaan pada “urban planning” dan “urban design”?
Pada tulisannya yang berjudul “Urban Planning Now: What Works, What Doesn’t?”, Jerold Kayden berpendapat bahwa “to plan is human, to implement, divine”[2]. Pendapat ini ia ajukan pada pembahasannya mengenai program urban planning di Harvard. Di dalam program tersebut, mahasiswa dituntut untuk mengerti, menganalisa, dan mempengaruhi beraneka ragam kekuatan (forces), baik di ranah sosial, ekonomi, budaya, estetika, hingga teknologi, yang membentuk lingkung bangun (built environment). Kekuatan tersebut tentu tidak pula terlepas dari pengalaman yang dirasakan manusia di dalam lingkung bangun tersebut, baik secara individual mampun kolektif. Dengan kata lain urban planning mempelajari begitu banyak hal (bahkan mungkin meminjam hampir semua ilmu) yang bersangkutan pada hubungan antara manusia dan lingkung bangun.
Begitu luasnya ilmu yang dipelajari pada urban planning, tak disangkal jika arsitektur pun berperan di dalamnya. Bahkan, bisa dikatakan arsitektur memiliki pengaruh terbesar pada perubahan lingkung bangun. Arsitektur yang begitu pekat akan konsep keruangan tidak hanya menjadi bukti peradaban, tetapi juga memberi dampak secara psikologis. Ia tidak hanya berbicara mengenai berdirinya suatu bangunan, tetapi juga pengaruh pada manusia di dalamnya dan lingkungan sekitarnya. Jadi perancangan bangunan yang digeluti para arsitek juga turut membentuk lingkungan, termasuk di suatu kota atau wilayah. Bahkan, Frank Lloyd Wright, seorang arsitek modern, berkata: “The agent of the state in all matters of land allotment or improvement, or in matters affecting the harmony of the whole, is the architect”[3].
Ada pula hal menarik mengenai “design” dan “planning” pada tulisan Wright yang berjudul “Broadacre City: A New Community Plan” dan tulisan Peter Calthorpe dan William Fulton yang berjudul “Designing the Region” dan “Designing the Region is Designing the Neighborhood”. Wright dengan sosoknya yang begitu dikenal sebagai arsitek berpikir bahwa kota ideal adalah kota yang menampung hak setiap orang atas tanah sebesar satu are. Ia tidak hanya memaparkannya melalui tulisan, tetapi juga model. Sementara Calthorpe dan Fulton membahas cukup mendalam mengenai hubungan suatu wilayah dengan lingkungan di dalamnya secara konseptual. Meskipun begitu, mereka juga menulis:
“Too often we plan and engineer rather than design. Engineering tends to optimize isolated elements without regard for the larger system, whereas planning tends to be ambiguous, leaving the critical details of place making to chance. If we merely plan and engineer, we forfeit the possibility of developing a “whole system” approach or a “design” that recognizes the trade-offs between isolated efficiences and integrated parts.”[4]
Saya sendiri sebagai mahasiswi arsitektur merasa terbatasi dengan kemampuan saya untuk mengomunikasikan pemikiran saya dengan tulisan atau perhitungan statistik karena saya lebih terbiasa mengajukan ide dengan model, gambar, atau bentuk grafik lainnya. Terkadang hal ini membuat saya lupa pada sense yang akan timbul dari model yang saya ciptakan. Ini mengingatkan saya pada model Broadacre City yang diciptakan Wright. Karyanya bisa saja dinilai baik bagi mereka yang setuju dengan konsep ‘ideal’ yang dibawa Wright, tetapi bisa saja utopia ini membawa kerugian bagi orang yang tinggal di dalamnya, misalnya ketergantungan akan kendaraan karena perletakkan zona privat dan publik yang berjauhan. Oleh karena itu, seorang arsitek bagi saya tidak hanya “asik” dengan masalah berdirinya sebuah bangunan, tetapi juga perlu melihat secara menyeluruh serta mendalam, bergantian.
Kembali pada masalah pengertian urban planning dan urban design, saya pikir letak perbedaannya ada pada luas hal yang dipelajari. “To plan”, mengacu pada pengertian spontan Kayden, adalah sesuatu yang “ilahi” (divine), sehingga cakupan pembelajarannya bisa saja lebih luas dari “design”. Ia tidak hanya sekedar merancang (design), tetapi juga melihat keseluruhan jaringan yang tersangkut pada rancangan tersebut. Sementara Tjahjono juga menjelaskan bahwa desain menentukan (prescribe) apa dan bagaimana seharusnya segala sesuatu dijalankan, sehingga desain menghasilkan pengetahuan tentang ‘apa’ dan ‘bagaimana’[5]. Dengan kata lain, urban design juga bisa dianggap sebagai bentuk dari implementasi dari urban planning, sehingga ia lebih spesifik dari urban planning itu sendiri. Tentunya kedua hal ini saling berkaitan, sehingga mempelajari salah satunya tidak serta merta menutup mata untuk yang lainnya.
Sejauh yang saya dapat dari dua kali peretemuan di mata kuliah perencanaan kota dan wilayah ini saya belum bisa membuktikan apakah spekulasi awal saya benar atau tidak. Akan tetapi, saya yakin mata kuliah ini akan memberikan saya ilmu yang lebih luas mengenai urban. Jadi, apakah saya, sebagai mahasiswi perancangan, perlu mengambil mata kuliah ini? Ya, karena merancang bukan hanya soal hasil, tetapi juga proses dan dibutuhkan keterbukaan pada ilmu pengetahuan di dalamnya.
[1] Gunawan Tjahjono, “Desain dan Merancang; Penjelajahan Suatu Gagasan”, Architrave edisi No.4, hlm. 56.
[2] Jerold Keyden, “Urban Planning Now: What Works, What Doesn’t?”, Harvard Design Magazine No.22, 2005.
[3] Frank Lloyd Wright, “Broadacre City: A New Community Plan”, The City Reader third edition, Routledge, 2003, hlm. 327
[4] Peter Calthorpe & Willia Fulton, “Designing the Region” and “Designing the Region is Designing the Neighborhood”, The City Reader third edition, Routledge, 2003, hlm. 333
[5] Gunawan Tjahjono, Op.Cit., hlm. 57.

